Sugioto_optimized_100

Detrenz.com, Pontianak, 10 Februari 2026 — Awal tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Sugioto , tokoh pemuda Tionghoa Kalimantan Barat sekaligus pengusaha yang akrab disapa Rico. Namanya resmi tercatat dalam sejarah Kesultanan Sulu, Filipina, setelah dianugerahi gelar bangsawan dalam sebuah prosesi adat yang sarat makna budaya, diplomasi, dan amanah sosial lintas negara.

Gelar kehormatan tersebut diberikan langsung oleh Sultan Sulu, Yang Mulia H.M. Mudarasulail A Kiram Al Muntasir Billah. Sugioto dianugerahi gelar PEHIN SRI (Orang Kaya Dihilir), sebuah gelar bangsawan dengan kedudukan tinggi dalam struktur Kesultanan Sulu, disertai registrasi resmi bernomor CN201626525/TIN 009-460-363 sebagai pengesahan adat dan administratif.

Prosesi penganugerahan berlangsung khidmat dengan tata busana kebesaran adat Sulu. Acara tersebut disaksikan langsung oleh Permaisuri Sulu, Dato’ Chong, Dato’ Azahari, Pangeran Laksamana Sulu, Maharajalayla Seri Laksamana Sulu, serta keluarga inti pemberian gelar. Kehadiran para tokoh penting kesultanan menegaskan bahwa penganugerahan ini bukan seremonial simbolik, melainkan bentuk kepercayaan penuh dari institusi adat tertinggi Kesultanan Sulu.

Dalam amanahnya, Sultan Sulu menekankan bahwa gelar bangsawan tidak dimaksudkan sebagai simbol kemegahan personal. Gelar tersebut, menurut Sultan, merupakan tanggung jawab moral yang melekat pada penerimanya untuk terus berbuat bagi masyarakat luas, memperkuat ikatan sosial, serta menjaga harmoni lintas budaya dan lintas negara.

“Gelar ini bukan untuk dibanggakan secara pribadi, melainkan untuk mendorong penerimanya agar terus memberi manfaat, pengabdian, dan bantuan kepada masyarakat, negara, dan agama tanpa terkecuali,” ujar Sultan Sulu dalam sambutannya, Selasa, 10 Februari 2026.

Sultan juga menjelaskan bahwa gelar Pehin Sri dalam tradisi Kesultanan Sulu memiliki posisi strategis dan historis. Gelar ini diberikan kepada individu yang dinilai memiliki kontribusi nyata, konsisten, serta berdampak dalam bidang sosial, budaya, kemasyarakatan, dan hubungan antarkomunitas.

Bagi Sugioto, penganugerahan ini dipandang sebagai bentuk kepercayaan atas kiprah panjang yang telah ia jalani, khususnya dalam peran sosial, budaya, dan kemasyarakatan. Ia menilai penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan personal, melainkan penilaian atas nilai jasa, bhakti, solidaritas, dan kepedulian dalam menjaga serta mengangkat khazanah budaya.

Lebih jauh, gelar bangsawan ini juga mencerminkan eratnya hubungan historis dan kultural antara wilayah Nusantara dan Kesultanan Sulu. Menurut Sugioto, penganugerahan tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antarbangsa di kawasan Asia Tenggara telah terjalin jauh sebelum batas-batas negara modern terbentuk.

“Ini bukan sekadar kehormatan, tapi amanah besar. Ada kepercayaan yang harus dijaga, ada nilai yang harus dirawat, dan ada hubungan lintas negara yang harus terus dipererat,” ujar Rico. Ia menyebut bahwa ikatan tersebut sejatinya berasal dari satu keluarga besar yang sama di masa lalu.

Sugioto juga mengungkapkan rasa syukur atas penganugerahan gelar dari kesultanan di luar Indonesia. Menurutnya, kebahagiaan tersebut tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga oleh keluarga besarnya. Namun di balik kebanggaan itu, ia menyadari tanggung jawab yang kini melekat semakin besar.

Melalui penganugerahan ini, Kesultanan Sulu menegaskan bahwa nilai-nilai budaya, pengabdian sosial, dan solidaritas lintas etnis tetap relevan di era modern. Sementara bagi Sugioto, gelar Pehin Sri menjadi pengingat bahwa kehormatan sejati bukan terletak pada gelar, melainkan pada konsistensi dalam memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan menjaga warisan nilai lintas generasi.