WhatsApp_Image_2026-05-03_at_14.23.32_optimized_100

Pontianak, 2 Mei 2026 – Tokoh masyarakat Tionghoa asal Kalimantan Barat yang juga dikenal luas sebagai pengusaha, penulis, dan pegiat budaya, Sugioto atau yang akrab disapa Rico, resmi meluncurkan karya terbarunya berjudul Kita Belum Dewasa. Acara peluncuran sekaligus sesi bedah buku berlangsung dengan penuh keakraban pada Sabtu malam, dimulai pukul 18.00 WIB di Majesty Poolside, Lantai 1 Aston Pontianak Hotel & Convention Center. Kehadiran para tokoh lintas bidang menjadikan momen ini bukan sekadar perkenalan karya, melainkan ruang diskusi yang menggugah pemikiran tentang makna kedewasaan sejati.

Dalam penjelasannya, Sugioto menyebutkan bahwa buku ini lahir dari hasil perenungan panjang yang dibangunnya selama bertahun-tahun. Berbagai pengalaman yang ia lalui di beragam bidang kehidupan, mulai dari dunia usaha yang penuh dinamika, lingkungan pendidikan yang membentuk karakter, hingga keterlibatannya dalam organisasi sosial dan yayasan kemanusiaan, menjadi sumber inspirasi utama dalam penulisan. Ia merangkai segala kisah dan pengamatan tersebut menjadi tulisan yang tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga mengajak pembaca melihat diri dan lingkungan dengan sudut pandang yang lebih jujur dan mendalam.

Salah satu gagasan utama yang diangkat dalam buku ini adalah pandangan bahwa kedewasaan seseorang tidak selalu berjalan seiring atau sebanding dengan usia yang dimilikinya. Bagi Sugioto, menjadi dewasa adalah hal yang jauh lebih kompleks daripada sekadar bertambahnya angka di atas kertas atau identitas diri. Ia menekankan bahwa kedewasaan sejati lebih terlihat dari cara berpikir, bertindak, dan menyikapi berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan dan konflik.

“Sering kali kita melihat sosok-sosok yang usianya sudah cukup tua dan dihormati di tengah masyarakat. Namun, saat melihat cara pandang dan tindakan yang diambilnya, ternyata masih jauh dari kata dewasa. Padahal, seseorang yang dikatakan dewasa seharusnya mampu menyikapi segala sesuatu dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan pertimbangan yang matang, bukan bertindak berdasarkan emosi sesaat atau kepentingan pribadi,” ungkap Sugioto dengan nada tegas namun tetap santai. Ia ingin menyadarkan bahwa usia hanyalah angka, tetapi kedewasaan adalah proses dan sikap yang terus dipupuk.

Menurut pengamatan yang ia tuangkan dalam tulisan, fenomena ketidaksamaan antara usia dan kedewasaan ini sering kali terlihat jelas dalam keseharian kita. Mulai dari hubungan antarwarga yang kerap memanas karena hal sepele, hingga dunia kerja dan usaha yang masih diwarnai dengan pertikaian, saling menjatuhkan, atau pengambilan keputusan yang tidak didasari oleh pertimbangan rasional dan kebaikan bersama. Hal-hal inilah yang kemudian memantik keinginannya untuk mengungkapkan pendapat dan mengajak semua pihak berpikir ulang tentang apa arti sebenarnya menjadi dewasa.

Dalam konteks dunia usaha yang sangat ia geluti dan pahami betul, Sugioto juga menyoroti satu hal yang menurutnya menjadi tanda nyata ketidakdewasaan dalam berbisnis. Ia menilai bahwa masih banyak praktik usaha yang dijalankan tanpa tujuan yang jelas, terutama dalam hal keuntungan ekonomi. Padahal, mendirikan dan menjalankan usaha haruslah memiliki orientasi untuk mendapatkan keuntungan agar bisnis tersebut dapat bertahan lama dan memberikan manfaat luas. “Masih ada yang berbisnis tetapi tidak memikirkan keuntungan, padahal kalau kita berusaha tentu tujuannya adalah untung, bukan justru merugi,” tegasnya. Ia juga menegaskan bahwa buku ini bukanlah panduan teknis tentang cara menjadi dewasa, melainkan ajakan terbuka untuk melakukan introspeksi diri.

Secara keseluruhan, karya ini mengajak para pembacanya untuk kembali merenung dan meninjau ulang makna kedewasaan yang selama ini sering kali dipahami secara sempit. Selama ini, kedewasaan sering kali hanya diukur dari seberapa tua usia seseorang, seberapa tinggi jabatan yang dipegang, atau seberapa besar pencapaian dan kekayaan yang dimilikinya. Melalui tulisannya, Sugioto mengajak kita semua untuk melihat hal ini dari sudut pandang yang berbeda, bahwa menjadi dewasa adalah perkara hati, pola pikir, dan tindakan nyata.

Suasana acara peluncuran berlangsung begitu hangat dan akrab, diisi dengan sesi diskusi terbuka yang hidup serta kesempatan bagi para pembaca untuk menyampaikan kesan dan pendapat mereka. Banyak di antara mereka yang mengaku merasa terwakili oleh gagasan-gagasan yang disampaikan dalam buku ini. Kehadiran para tokoh penting semakin melengkapi kemeriahan acara, di antaranya Raja Tayan Panembahan Anom Pakunegara, Gusti Yusri S.H, Direktur Lembaga Konfusius Universitas Tanjungpura Yang Xiaoqiang, para rektor perguruan tinggi ternama seperti Dr. M. Hadi Santoso dari Universitas Widya Dharma dan Dr. Purwanto dari Universitas Pembangunan Bangsa Pontianak. Selain itu, hadir pula perwakilan PGRI, dosen Fakultas Hukum Untan, pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, mahasiswa, serta tokoh politik dan masyarakat setempat.

Karya terbaru ini merupakan buku ketiga yang berhasil diselesaikan oleh Sugioto. Sebelumnya, ia telah memperkenalkan diri sebagai penulis lewat buku perdananya yang terbit pada tahun 2022 berjudul Sugioto: Proses, Protes dan Sukses. Buku tersebut berisi kisah perjalanan hidupnya, penuh dengan perjuangan, jatuh bangun, hingga akhirnya mencapai kesuksesan di dunia usaha. Dua tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 2024, ia kembali meluncurkan karya keduanya berjudul Kita Di Ujung Tanduk, berupa kumpulan tulisan pendapat yang menyoroti berbagai situasi genting yang dihadapi bangsa Indonesia, mulai dari masalah politik, kondisi ekonomi, hingga tantangan dalam sistem demokrasi.

Kali ini, butuh waktu sekitar empat bulan bagi Sugioto untuk merampungkan karya terbarunya yang dianggap sangat istimewa ini. Buku Kita Belum Dewasa ini bukan sekadar kumpulan tulisan renungan biasa, terlebih lagi bukan sekadar kumpulan nasihat atau ceramah moral yang terdengar menggurui. Di dalamnya, kedewasaan tidak didefinisikan semata-mata lewat angka usia, jabatan, atau status sosial seseorang. Sebaliknya, Sugioto menguraikan bahwa kedewasaan sejati terlihat dari cara kita menyikapi rasa sakit hati, bagaimana kita menghargai perbedaan pendapat, cara kita bangkit dari kegagalan, serta kejujuran kita dalam melihat dan menerima diri sendiri apa adanya.