21 September 2026
IMG-20260920-WA0001

Detrenz.com, Pontianak, 19 September 2026 — Musim kemarau yang tak kunjung usai mengubah wajah Kalimantan Barat.

Hutan kering, tanah retak, dan yang paling menyakitkan, Sungai Kapuas, urat nadi kehidupan Pontianak, kini berubah rasa, air laut menyusup masuk karena debit air tawar menurun drastis.

Sungai yang selama ini memberi kehidupan, kini airnya terasa asin tak layak diminum, tak layak untuk mandi, tak layak untuk kehidupan sehari-hari, krisis air bersih bukan lagi sekadar berita di koran.

Saat banyak yang hanya berkomentar, satu pengusaha lokal memilih bergerak dan bertindak nyata, Rico alias Sugioto, S.H., M.Kn., Direktur Utama PT Pelayaran Sinar Inti Matan, tidak menunggu rapat berbulan-bulan atau anggaran yang lama cair, Ia langsung turun tangan.

Armada tongkang perusahaan dialihkan dari rute komersial menjadi kapal pengangkut air tawar bersih dengan total volume sekitar 5.000 ton air bersih diangkut dari Simpang 3 Sungai Radak, kawasan yang masih memiliki cadangan air tawar murni, disusuri sepanjang alur sungai, hingga tiba di Instalasi Pengolahan Air Perumda Tirta Khatulistiwa di Parit Mayor, Pontianak.

Penyerahan bantuan ini bukan sekadar seremonial, disaksikan langsung oleh Wali Kota Pontianak, momen ini menjadi simbol bahwa ketika pemerintah dan swasta bersatu, tak ada krisis yang tak bisa dihadapi, namun di balik senyum dan jabat tangan itu, ada kisah yang jarang terungkap: perjalanan ini jauh dari mudah.

Menyusuri sungai yang panjang, menjaga kualitas air tetap bersih selama perjalanan, menanggung seluruh biaya bahan bakar, logistik, hingga tenaga semuanya ditanggung mandiri oleh perusahaan, tanpa bayaran, tanpa untung, murni kemanusiaan.

“Ini bukan tentang bisnis. Ini tentang sesama warga Pontianak yang sedang kesulitan,” ujar Rico dengan rendah hati, namun di tengah aksi mulia ini, ia menyisipkan pesan yang jauh lebih dalam, tajam, dan menyentuh hati, pesan yang datang dari mereka yang selalu datang duluan saat bahaya, namun sering kali dilupakan saat mereka yang membutuhkan pertolongan.

Mereka adalah para relawan Pemadam Kebakaran Swasta. Di setiap kebakaran, di setiap banjir, di setiap bencana merekalah yang pertama tiba, saat api melahap pemukiman, mereka memanjat tangga dengan selang di pundak dan saat air naik, mereka menggendong lansia menuju tempat aman. Pemerintah daerah selalu menggandeng mereka saat musibah datang, namun ketika api padam dan air surut, di mana mereka berada?

“Selama ini kami selalu dicari saat musibah datang. Tapi ketika kami yang membutuhkan peremajaan alat, dukungan operasional, sekadar penghargaan moril perhatian itu belum sepenuhnya ada,” ungkap Rico, mewakili suara para pejuang di garis depan. Kata-katanya bukan kemarahan, melainkan kekecewaan yang mendalam dari mereka yang telah lama memberi tanpa pernah meminta kembali.

Ini ironi yang menyakitkan. Kita mengharapkan mereka siap siaga 24 jam, namun kita lupa memastikan mereka memiliki alat yang layak, kendaraan yang andal, dan pengakuan yang layak. Kita berharap mereka mempertaruhkan nyawa untuk kita, tapi kita ragu mengalokasikan anggaran untuk keselamatan mereka.

“Yang kami jaga bukan kepentingan kelompok, yang kami jaga adalah keselamatan Kota Pontianak itu sendiri,” tambahnya. Sederhana, tegas, dan menusuk tajam ke hati setiap pemimpin yang mendengarnya.

Rico tidak meminta kemewahan. Harapannya sederhana: rasa keadilan. Timbal balik yang seimbang. Jika kita meminta mereka selalu ada untuk kita, maka kita pun harus selalu ada untuk mereka. Bukan hanya saat ada api, tapi setiap hari. Bukan sekadar ucapan terima kasih, tapi tindakan nyata alat yang layak, pelindung diri yang memadai, dan apresiasi yang tulus.

Misi air bersih ini adalah bukti bahwa kebaikan masih ada. Pengusaha lokal rela mengerahkan armada dan biaya sendiri demi warga yang kesulitan. Perumda Tirta Khatulistiwa membuka diri menerima kolaborasi. Pemerintah Kota hadir mengawal. Sinergi ini patut diapresiasi dan dilanjutkan. Namun sinergi ini belum lengkap jika ada pihak yang terus-menerus memberi namun tak pernah diberi.

Semoga aksi ini bukan hanya mengisi tangki air Pontianak, tetapi juga mengisi kesadaran kita semua. Bahwa kebersamaan sejati bukan hanya saat kita sama-sama menerima bantuan. Kebersamaan sejati adalah ketika kita juga ingat merawat mereka yang selalu merawat kita.

Untuk para relawan Damkar Swasta Pontianak: kalian tidak sendirian. Dan semoga hari ini, setelah kalian memadamkan api demi warga, warga pun melalui pemimpinnya siap memastikan kalian tetap aman, terlengkapi, dan dihargai sebagaimana mestinya. Karena kota ini aman bukan hanya karena air mengalir, tapi karena kalian selalu ada di garis terdepan.